Korupsi; “Bernyanyilah” Karena Kau Tidak Sendiri

(Ambin Demokrasi)

Oleh: Noorhalis Majid

Sejumlah kasus korupsi yang sedang bergulir di Peradilan, menyimpan perasaan harap-harap cemas. Sejumlah pertanyaan bergulir di publik, mungkinkah tersangka melakukannya sendirian? Beranikah tersangka bernyanyi? Apakah orang-orang kuat yang menentukan kebijakan, akan turut terseret?

Korupsi, suatu tindak kejahatan yang melibatkan sejumlah orang sebagai pelakunya. Sulit melakukannya sendirian. Sebab itu, setiap kali kasus korupsi terbongkar, pasti menyeret sejumlah orang. Terkecuali ada yang berani pasang badan, menanggung semuanya sendirian, dan tidak ingin yang lain terseret menjadi pesakitan.

Berani pasang badan, tentu tidak gratisan. Ada konsekuensi, ada harga yang harus dibayar kepada yang berani menanggung. Harga itu pun tidak murah, karena apapun yang terjadi sudah diterima dengan segala risiko, “dalas bungkas di parut, kada bungkas di muntung”.

Namun, untuk kasus-kaus yang tidak ada kesepakatan di awal, atau pembagian hasil korupsi yang tidak imbang, pasti sulit “bakanti” untuk tidak bernyanyi dan membongkar semua yang terlibat. Apalagi hanya sekedar dikambing hitamkan, dituduh memakan sendirian, padahal hanya kecipratan atau “tasimbaya”, karena kebetulan alur uang korupsi tersebut melalui meja yang menjadi kewenangannya.

Aparat Penegak Hukum (APH) sering kali tidak mau membongkar semuanya, dan memilih bidak-bidak kecil sebagai tumbal, membiarkan aktor intelektual tetap berjaya, lalu mengulangi segala kejahatan untuk terus dilakukan. Kalau APH membongkar sampai ke akarnya, pasti memberi efek jera, karena semua yang terlibat dan turut serta, termasuk yang membiarkan segala kecurangan terjadi, juga akan menanggung akibatnya.

Agar korupsi bisa dituntaskan, sebaiknya yang sekarang sedang bertarung di ruang peradilan, “bernyanyilah” untuk tidak menanggung sendirian. Yakinlah publik sangat mengerti bahwa engkau tidak sendirian. Tidak sendirian dalam melakukan dan menikmati hasilnya, bahkan aktor intelektual jauh lebih berhak menanggungnya. Juga tidak sendirian untuk berani berkata jujur, karena publik pasti akan mendukung, minimal bersimpatik. Sebutkan dengan jelas siapa dapat berapa, dan kemana saja uang tersebut mengalir. Kalau mengalir ke puncak-puncak kekuasaan, atau bahkan mengalir jauh hingga ke APH itu sendiri, sebutkan saja, sekali lagi publik akan mendukung. Bahkan tidak sendirian dalam menanggung dampaknya. Anak, istri, keluarga dan seluruh kerabat, turut menanggung malu, menjadi bagian dari keluarga koruptor. Sebab itu, bernyanyilah, agar menjadi pembelajaran.

Baca Juga  Menjaga Kedaulatan Pers di Tengah Perjanjian Dagang Indonesia–Amerika Serikat

Tanpa ada keberanian untuk “bernyanyi”, menyampaikan kebenaran senyata-nyatanya, korupsi tidak akan dapat diberantas hingga ke akarnya. Berani bernyanyi, adalah ikhtiar untuk menyudahi praktik kotor korupsi, karena publik sudah sangat mengerti, engkau tidak mungkin sendirian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *