Diduga Akibat Angkutan Proyek, Warga Grand Purnama II Galang Dana Perbaikan Jalan Sendiri

Pijarkalimantan.com, Batola – Amarah warga Komplek Grand Purnama II, Desa Tatah Mesjid, Kabupaten Barito Kuala (Batola), memuncak. Jalan gerbang utama yang menjadi akses keluar-masuk warga kini rusak parah dan kerap tergenang air saat hujan.

Warga menduga kuat kerusakan tersebut dipicu oleh lalu lalang truk pengangkut material proyek pengembangan perumahan baru di bagian belakang kawasan.

Kondisi jalan yang berlubang dan berlumpur disebut semakin membahayakan. Beberapa warga mengaku hampir terjatuh saat melintas, terutama pada pagi hari ketika genangan air menutupi lubang jalan.

“Subuh-subuh sudah terperosok karena tidak kelihatan lubangnya. Kami ini warga, tapi seperti tidak diperhatikan,” keluh seorang warga.

Warga menilai kendaraan bertonase besar menjadi faktor utama kerusakan. Truk pengangkut tanah, batu, hingga material bangunan disebut hampir setiap hari melintas di jalan tersebut.

Yusuf salah satu warga, secara tegas meminta pihak-pihak yang menggunakan kendaraan berat ikut bertanggung jawab.

“Harusnya yang punya mobil besar dan usaha angkutan berat lebih banyak kontribusinya. Mereka yang paling besar pengaruhnya terhadap kerusakan jalan,” ujarnya.

Tak hanya itu, warga juga menyoroti keberadaan sejumlah usaha besar di sekitar kompleks, termasuk toko bangunan dan operasional truk tangki, agar tidak lepas tangan.

Hasil musyawarah RT 025 dan RT 026 memutuskan untuk melakukan penggalangan dana secara swadaya dengan cara door to door. Namun keputusan ini memicu pro dan kontra.

Sebagian warga menilai langkah tersebut terkesan membebankan masyarakat, sementara proyek pembangunan di belakang kompleks masih terus berjalan.

“Kalau proyek masih jalan, masa tanggung jawabnya ke warga semua? Jangan lempar-lempar tanggung jawab,” ujar warga lainnya.

Pengembang disebut membuka opsi perbaikan melalui gotong royong dengan pembiayaan bersama antara pengembang, warga, dan pemilik usaha tangki minyak. Namun sebagian warga menganggap skema tersebut belum mencerminkan keadilan.

Baca Juga  Sepanjang 2025, Polres Banjar Bongkar Ratusan Kasus Kejahatan, Dari Narkoba hingga Pembunuhan

Warga juga menolak jika perbaikan hanya dilakukan dengan penimbunan batu. Mereka khawatir jalan akan kembali rusak dalam waktu singkat jika kendaraan berat masih bebas melintas.

“Kalau cuma uruk batu, sebentar saja rusak lagi. Harusnya diaspal sekalian,” tegas seorang warga, membandingkan dengan kawasan lain yang aksesnya lebih tertata dan tidak mudah rusak.

Hingga kini, belum ada kepastian kapan perbaikan akan dilakukan dan siapa yang akan memikul tanggung jawab utama. Sementara itu, warga Grand Purnama II terus berjibaku dengan jalan berlubang setiap hari.

Jika tak segera ada solusi konkret, bukan tidak mungkin polemik ini akan semakin memanas dan menyeret lebih banyak pihak untuk turun tangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *