Pijarkalimantan.com – Tanah Bumbu
Politik nasional sering kali menghadirkan tokoh-tokoh yang bekerja di bawah sorotan lampu. Namun, sesekali muncul figur yang justru memperlihatkan pengaruhnya dari balik layar. Dalam sejumlah percakapan politik di Jakarta, nama Sufmi Dasco Ahmad kerap disebut sebagai salah satu sosok yang memainkan peran tersebut.
Di warung kopi, ruang redaksi, hingga forum-forum diskusi politik, satu pertanyaan belakangan mengemuka: mengapa nama Don Dasco disebut-sebut layak menduduki posisi yang lebih strategis dalam pemerintahan?
Pertanyaan itu muncul di tengah berbagai tudingan dan spekulasi yang beredar di ruang digital. Namun seperti banyak tokoh politik lainnya, berbagai dugaan yang pernah diarahkan kepadanya belum pernah berujung pada pembuktian hukum. Dalam politik, persepsi sering bergerak lebih cepat daripada fakta, sementara rumor kerap menjadi bahasa tidak resmi yang menandai adanya dinamika kekuasaan.
Di internal Partai Gerindra, Dasco bukan sekadar Ketua Harian. Banyak kalangan melihatnya sebagai salah satu operator politik paling berpengaruh di lingkaran Presiden Prabowo Subianto. Perannya tidak selalu tampak di depan publik, tetapi jejak pengaruhnya diyakini hadir dalam berbagai keputusan penting koalisi.
Sejumlah pengamat menilai kekuatan Dasco lahir dari kombinasi posisi formal dan jaringan informal yang terbangun selama bertahun-tahun. Ia memiliki pengalaman panjang di parlemen, hubungan luas dengan berbagai kelompok politik, serta kemampuan menjaga komunikasi dengan banyak pihak yang sering kali memiliki kepentingan berbeda.
Dalam skenario politik yang paling ekstrem sekalipun, nama Dasco kerap masuk dalam berbagai kalkulasi elite. Bukan karena jabatan yang ia pegang saat ini semata, melainkan karena kemampuannya membangun konsensus dan mengorkestrasi kepentingan yang beragam di dalam koalisi.
Pengaruh tersebut setidaknya terlihat dari beberapa aspek.
Di bidang hukum, pengalaman Dasco di Komisi III DPR dan Mahkamah Kehormatan Dewan membuatnya memiliki jejaring yang luas di lingkungan penegakan hukum.
Di tubuh partai, posisinya sebagai Ketua Harian Gerindra menempatkannya pada jalur komando yang menjangkau struktur organisasi hingga tingkat akar rumput.
Di kalangan aktivis dan kelompok masyarakat sipil, ia dikenal mampu menjalin komunikasi dengan berbagai elemen gerakan sosial, termasuk kelompok buruh dan organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, di lingkungan parlemen, posisinya sebagai pimpinan DPR memberikan ruang strategis dalam mengawal berbagai agenda legislasi maupun kebijakan nasional.
Hubungannya dengan media massa juga kerap menjadi perhatian. Pendekatan komunikatif yang dibangun selama bertahun-tahun membuatnya mampu menjaga hubungan yang relatif baik dengan berbagai kalangan pers.
Di sektor bisnis dan korporasi, latar belakang profesionalnya turut membentuk jaringan yang memperkuat daya dukung politiknya. Faktor inilah yang dinilai sejumlah pihak menjadi salah satu sumber kekuatan logistik dan pengaruh yang dimilikinya.
Tak kalah penting, Dasco juga disebut aktif mendorong kaderisasi generasi muda di lingkungan Gerindra dan kelompok-kelompok pendukung pemerintahan. Upaya tersebut dianggap sebagai investasi politik jangka panjang menuju agenda pembangunan Indonesia Emas 2045.
Pada akhirnya, terlepas dari berbagai spekulasi yang mengiringi perjalanan politiknya, satu fakta sulit dibantah: Don Dasco merupakan salah satu figur yang memiliki posisi penting dalam konfigurasi kekuasaan nasional saat ini.
Ia mungkin tidak selalu menjadi wajah utama dalam setiap panggung politik. Namun di balik berbagai dinamika yang terjadi, banyak kalangan meyakini bahwa sebagian besar orkestrasi tetap membutuhkan satu ketukan dirigen yang sama.Dan dalam narasi politik kekinian, nama itu adalah Don Dasco.












