Helmi Rifai,SH : Bank Kalsel Naik Kelas, Siapkah Bertempur di Arena Global?

Pijarkalimantan.com, Banjarmasin, 25 Juni 2026 – Penetapan Bank Kalsel sebagai Bank Devisa menjadi tonggak penting dalam perjalanan lembaga keuangan milik daerah tersebut. Status baru ini bukan sekadar penambahan layanan atau perubahan administratif semata, melainkan sebuah lompatan besar yang menandai naiknya level Bank Kalsel ke panggung yang lebih luas.

Dengan status Bank Devisa, Bank Kalsel kini memiliki kewenangan untuk melayani berbagai transaksi internasional, mulai dari pengiriman dan penerimaan dana dari luar negeri, penyediaan rekening valuta asing, hingga mendukung aktivitas ekspor dan impor.

Kesempatan ini membuka jalan bagi bank kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan untuk ikut mengambil peran dalam arus ekonomi global.

Namun, menurut Helmi Rifai, SH, capaian tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai sebuah prestasi, melainkan juga sebagai awal dari tantangan yang jauh lebih besar.

“Menjadi Bank Devisa ibarat naik kelas dalam sebuah pertandingan. Jika sebelumnya bermain di level domestik, kini Bank Kalsel harus siap menghadapi kompetisi yang lebih ketat dengan pemain-pemain yang memiliki pengalaman, teknologi, dan kapasitas yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Masuk ke dalam ekosistem perbankan internasional berarti Bank Kalsel harus bersiap menghadapi berbagai risiko yang lebih kompleks.

Fluktuasi nilai tukar, kepatuhan terhadap regulasi global, potensi tindak pencucian uang, hingga ancaman kejahatan siber menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, penguatan sistem manajemen risiko menjadi aspek yang sangat penting. Pengembangan layanan internasional harus berjalan seiring dengan peningkatan sistem pengawasan dan pengendalian agar ekspansi bisnis tetap berada dalam koridor yang aman dan sehat.

Selain itu, investasi pada sektor teknologi informasi menjadi kebutuhan mutlak. Di tengah meningkatnya transaksi digital lintas negara, ancaman serangan siber menjadi risiko nyata yang harus diantisipasi melalui sistem keamanan yang andal dan berstandar tinggi.

Baca Juga  Kejaksaan Tinggi Kalsel Bagikan Stiker dan Coklat untuk Kampanye Anti Korupsi

Tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Status Bank Devisa menuntut hadirnya SDM yang memahami mekanisme transaksi internasional, regulasi anti pencucian uang (AML), prinsip Know Your Customer (KYC), hingga berbagai ketentuan yang berlaku dalam perdagangan global.

“Keunggulan bank saat ini tidak hanya diukur dari besarnya aset yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusianya. Kompetensi global menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar,” kata Helmi.

Di sisi lain, peluang yang terbuka juga sangat besar. Bank Kalsel memiliki kesempatan untuk memperluas pasar dengan menyasar pelaku usaha ekspor, diaspora Banua yang berada di luar negeri, jamaah umrah dan haji, mahasiswa internasional, hingga investor asing yang ingin menanamkan modal di Kalimantan Selatan.

Potensi tersebut didukung oleh kekuatan ekonomi daerah yang terus berkembang. Sektor pertambangan, perkebunan, perikanan, industri kreatif, hingga kawasan Geopark Meratus memiliki prospek besar untuk terhubung dengan pasar internasional melalui dukungan layanan perbankan yang memadai.

Dalam konteks itu, Bank Kalsel dapat mengambil posisi strategis sebagai penghubung antara potensi ekonomi daerah dengan jaringan bisnis global. Namun, setiap langkah ekspansi tetap harus dibangun di atas prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik.

Menurut Helmi Rifai, pertumbuhan yang cepat memang penting, tetapi pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan jauh lebih menentukan keberhasilan jangka panjang.

“Status Bank Devisa bukanlah garis finis. Ini justru titik awal menuju tantangan yang lebih besar. Pertanyaannya sekarang, apakah Bank Kalsel hanya siap masuk ke arena global, atau juga siap memenangkan persaingan di dalamnya? Waktu yang akan menjawab,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *