Pijarkalimantan.com, Banjarmasin – Kepulan asap dari kuali mulai membumbung sejak pagi di Gang Hamparaya, RT 11, Kelurahan Pekapuran Laut, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Jumat (26/6/2026).
Di balik harum rempah yang menggoda, puluhan emak-emak tampak sibuk mengaduk Bubur Asyura dengan penuh semangat. Tawa, canda, dan kerja sama mereka menjadi gambaran nyata bahwa tradisi gotong royong masih tumbuh subur di tengah kehidupan perkotaan.
Momentum 10 Muharram atau Hari Asyura kembali menjadi ajang mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat RT 11 kompak menggelar tradisi memasak Bubur Asyura, sajian khas yang diracik dari puluhan bahan pilihan dan sarat akan makna sejarah, rasa syukur, serta kepedulian sosial.
Sejak pagi, para ibu rumah tangga telah berkumpul membawa berbagai bahan makanan. Ada yang membersihkan sayuran, menyiapkan bumbu, mengaduk bubur di dalam kuali besar, hingga memastikan proses memasak berlangsung dengan baik.
Semua dilakukan secara sukarela tanpa mengenal lelah, mencerminkan kuatnya budaya gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketua RT 11, Maskiah, mengatakan tradisi Bubur Asyura bukan sekadar kegiatan memasak bersama, melainkan menjadi simbol kebersamaan yang selalu dinantikan warga setiap datangnya bulan Muharram.
“Alhamdulillah, setiap tahun warga sangat antusias. Terutama ibu-ibu yang selalu bersemangat bergotong royong. Tradisi ini bukan hanya tentang membuat bubur, tetapi juga menjadi momen mempererat silaturahmi dan berbagi kebahagiaan kepada sesama,” ujarnya.
Setelah matang, Bubur Asyura dibagikan kepada seluruh warga sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memperkuat ikatan sosial di lingkungan.
Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa kebersamaan lahir dari kepedulian dan semangat saling membantu.
Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggerus tradisi lokal, warga RT 11 Gang Hamparaya memilih tetap menjaga warisan budaya tersebut.
Mereka berharap generasi muda terus mengenal dan melestarikan Tradisi Bubur Asyura sebagai bagian dari identitas masyarakat Banjar yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kekeluargaan, dan kebersamaan.
Bagi warga Gang Hamparaya, Bubur Asyura bukan sekadar hidangan khas Muharram. Lebih dari itu, ia adalah simbol persatuan yang setiap tahunnya kembali menghangatkan hati dan menyatukan warga dalam satu rasa, satu semangat, dan satu keluarga besar.












