Pijarkalimantan.com, KOTABARU – HMI Cabang (P) Kotabaru–Tanah Bumbu menegaskan bahwa kepengurusan BADKO HMI Kalimantan Selatan hingga saat ini masih sah secara organisatoris dan tetap memiliki legitimasi berdasarkan Surat Keputusan (SK) serta mekanisme konstitusional organisasi.
Karena itu, berbagai narasi yang berkembang di ruang publik terkait klaim kepemimpinan dinilai tidak mencerminkan etika berhimpun dan berpotensi mencederai marwah organisasi.
Ketua Umum HMI Cabang (P) Kotabaru–Tanah Bumbu, Teguh Jaka Saputra, menegaskan bahwa HMI merupakan organisasi kader yang dibangun di atas tradisi intelektual, penghormatan terhadap forum, serta kepatuhan terhadap konstitusi organisasi, bukan ruang untuk membangun opini personal maupun klaim tanpa dasar organisatoris yang jelas.
“Kami menyayangkan apabila terdapat narasi yang berkembang seolah-olah mendahului mekanisme organisasi. Padahal, kepemimpinan BADKO HMI Kalimantan Selatan hari ini masih sah dan memiliki legitimasi organisasi yang jelas. HMI tidak dibangun di atas kegaduhan opini, tetapi di atas nilai perjuangan, etika, dan kedewasaan kader dalam menghormati proses,” ujar Teguh.
Ia menegaskan, hingga kini kepemimpinan Abdi Aswadi masih legitimate dan tetap dihormati sebagai nahkoda BADKO HMI Kalimantan Selatan.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan tersebut, proses komunikasi organisasi, penguatan kaderisasi, hingga perhatian terhadap cabang-cabang persiapan tetap berjalan aktif dan konstruktif.
Bagi HMI Cabang (P) Kotabaru–Tanah Bumbu, keberlanjutan kaderisasi dinilai jauh lebih penting dibanding dinamika politik internal yang tidak produktif. Fokus organisasi saat ini adalah memperkuat kualitas kader, memperluas ruang intelektual, serta memastikan proses diaspora perkaderan terus tumbuh menuju terwujudnya cabang penuh di masa mendatang.
“Kami masih percaya bahwa kepemimpinan BADKO HMI Kalimantan Selatan saat ini tetap memiliki komitmen dalam mengawal kaderisasi di daerah. HMI Cabang (P) Kotabaru–Tanah Bumbu terus diberikan ruang untuk bertumbuh, memperkuat eksistensi, dan membangun kualitas kader menuju cabang penuh nantinya,” lanjutnya.
Dalam keterangannya, Teguh turut mengutip pemikiran Nurcholish Madjid yang menyatakan:
“Organisasi akan kehilangan kehormatannya ketika ambisi lebih besar daripada nilai perjuangan.”
Menurutnya, kutipan tersebut menjadi refleksi penting agar seluruh kader HMI tetap menempatkan marwah organisasi di atas kepentingan personal maupun manuver opini yang berpotensi memecah soliditas kader.
Ia menambahkan, HMI tidak boleh kehilangan orientasi perjuangannya hanya karena dinamika sesaat. Sebab, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari tradisi kaderisasi, intelektualitas, dan kemampuan kader menjaga kehormatan organisasi dalam setiap momentum.
Di akhir keterangannya, HMI Cabang (P) Kotabaru–Tanah Bumbu mengajak seluruh kader HMI di Kalimantan Selatan untuk tetap menjaga persaudaraan, menghormati kepemimpinan yang sah, serta menjadikan kaderisasi sebagai agenda utama perjuangan organisasi.
“HMI besar bukan karena riuhnya klaim, melainkan karena kuatnya tradisi kaderisasi dan kesadaran kader dalam menjaga marwah organisasi,” tutup Teguh Jaka Saputra.












