BANJAR, PijarKalimantan.com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar tasyakuran atas ditempatinya sekretariat baru di Ruko Kompleks Margasana Asri, Kabupaten Banjar, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus GEPAK Kalsel dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Tasyakuran diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas tersedianya sekretariat baru bagi organisasi.
Ketua GEPAK Kalsel, H. Junaidi, mengatakan keberadaan sekretariat tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas dan koordinasi organisasi dalam menjalankan berbagai program.
“Alhamdulillah, hari ini kita bersyukur kepada Allah. Dengan kawan-kawan, walaupun ala kadarnya, kita bisa menempatkan sekretariat untuk Kalimantan Selatan. Kita berharap dengan adanya sekretariat ini kerja organisasi lebih maksimal, khususnya dalam membantu masyarakat,” ujar Junaidi.
Menurutnya, GEPAK sebagai organisasi kemasyarakatan akan menjalankan program sesuai dengan garis organisasi serta membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
Junaidi mengatakan masyarakat dan pemerintah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program organisasi. Karena itu, hubungan dengan kedua unsur tersebut perlu terus dibangun.
“Selain masyarakat, kita juga harus berhubungan dengan stakeholder kita, yaitu pemerintahan. Ada tiga pilar yang harus kita padukan, yakni GEPAK, masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Junaidi juga menjelaskan rencana keberangkatan jajaran GEPAK Kalsel ke Kalimantan Timur untuk menghadiri agenda GEPAK sekaligus melakukan konsolidasi dengan pengurus di tingkat pusat.
Menurutnya, agenda tersebut berkaitan dengan proses legalisasi dan penataan kepengurusan GEPAK di Kalimantan Selatan. Pembentukan DPW Kalsel, lanjutnya, merupakan usulan dari sejumlah DPD.
“Tujuannya memang legalisasi organisasi. Selama ini di Kalimantan Selatan GEPAK-nya vakum. Ini merupakan usulan dari beberapa DPD untuk membentuk DPW,” jelasnya.
Selain menghadiri agenda organisasi, rombongan GEPAK Kalsel juga akan mengambil Surat Keputusan (SK) definitif kepengurusan serta mengonsultasikan sejumlah persoalan dan agenda daerah kepada pengurus pusat.
Terkait deklarasi GEPAK Kalsel, Junaidi mengatakan kegiatan tersebut rencananya akan dilaksanakan secara terpisah di Banjarmasin.
Sebelumnya, sempat muncul wacana untuk menggabungkan deklarasi dengan agenda ulang tahun GEPAK. Namun, rencana tersebut kemudian dipertimbangkan kembali karena masing-masing kegiatan memiliki agenda tersendiri.
Selain konsolidasi organisasi, GEPAK Kalsel juga berencana membahas kembali gagasan Aruh Gana bersama sejumlah tokoh dan elemen masyarakat Kalimantan.
Junaidi mengatakan kegiatan Aruh Gana sebelumnya pernah dilaksanakan oleh sejumlah tokoh di Kalimantan Selatan. Menurutnya, gagasan tersebut dapat dikembangkan kembali sebagai ruang untuk membahas berbagai persoalan dan kepentingan masyarakat Kalimantan.
“Kita ingin Kalimantan ini punya peran strategis di Indonesia. Itu yang akan kita bahas dengan kawan-kawan,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi sumber daya alam Kalimantan yang dinilai perlu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat lokal.
Menurut Junaidi, masyarakat Kalimantan harus memiliki peran dalam mengelola dan menikmati potensi daerahnya sendiri.
“Jangan jadi tamu di daerah sendiri. Kita punya sumber daya yang melimpah, tetapi jangan sampai hasilnya lebih banyak dinikmati pihak dari luar daerah,” ujarnya.
Dalam penyusunan program kerja ke depan, GEPAK Kalsel juga berencana memberikan perhatian terhadap masyarakat adat di seluruh Kalimantan.
Junaidi mengatakan pemberdayaan masyarakat adat menjadi salah satu bagian yang akan dibahas dalam program organisasi, termasuk upaya mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Salah satu bagian tujuan atau tugas GEPAK memang mengangkat masyarakat adat. Kita ingin nantinya program kerja kita salah satunya mengangkat masyarakat adat khusus di seluruh Kalimantan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan masyarakat lokal perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan potensi daerah, termasuk sektor sumber daya alam.
“Jangan jadi tamu di kampung sendiri. Sama seperti di sini, orang-orang tambang bukan orang kita. Yang menikmati cuma segelintir orang daerah, sementara yang lebih banyak menikmati justru dari luar daerah,” pungkasnya.












