BANJAR, PijarKalimantan.com — Peringatan Milad ke-2 Dewan Pimpinan Pusat Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) tidak hanya diisi syukuran dan silaturahmi.
Persoalan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan turut menjadi perhatian dalam kegiatan yang digelar di Efa Coffee Cafe and Eatery, Hotel Eva, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Sabtu (22/8/2026).
Mengusung tema “Tumbuh Mandiri, Bangkit Bersinergi”, kegiatan tersebut menjadi momentum FKPWK menyampaikan kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat.
Pengurus FKPWK, Akhmad Murjani, meminta pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.
Ia secara khusus menyoroti anak-anak sekolah yang dinilai rentan terhadap buruknya kualitas udara.
Menurut Murjani, persoalan kabut asap tidak hanya berkaitan dengan kesehatan.
Dampaknya juga mulai dirasakan pada sektor transportasi dan distribusi logistik, termasuk jalur Liang Anggang-Pelaihari serta kawasan Banjarbaru.
“Asap ini sudah mengganggu transportasi logistik, seperti di jalur Liang Anggang ke Pelaihari maupun Banjarbaru. Dampaknya harga bahan pokok naik dan ekonomi warga tertekan,” tegas Murjani.
Ia meminta pemerintah daerah serius menangani persoalan tersebut.
Murjani juga meminta kondisi anak-anak sekolah menjadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan.
“Pikirkan juga anak-anak sekolah, apakah perlu diliburkan atau ada skema alternatif agar mereka tidak menjadi korban ISPA,” katanya.
Selain menyoroti kabut asap, FKPWK menyiapkan tim advokasi bagi masyarakat yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tim Advokat FKPWK, Bujino A. Sahlan, mengatakan warga yang kehilangan lahan, rumah maupun sumber mata pencaharian membutuhkan pendampingan.
Menurutnya, masyarakat terdampak harus mendapat kepastian atas hak dan bantuan yang menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Ini sudah masuk kategori bencana. Banyak warga kehilangan mata pencaharian dan rumah,” ujar Bujino.
Ia memastikan tim advokasi FKPWK siap mendampingi masyarakat.
“Kami dari tim advokasi siap mendampingi masyarakat agar mereka mendapatkan hak serta fasilitas bantuan sosial dari pemerintah,” katanya.
Di tengah pembahasan persoalan kabut asap, kegiatan Milad ke-2 FKPWK tetap berlangsung dengan sejumlah agenda.
Acara diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama.
Kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Umum DPP FKPWK, kilas balik perjalanan organisasi selama dua tahun dan pemotongan tumpeng.
FKPWK juga memberikan penghargaan kepada sejumlah putra-putri Banua yang dinilai berhasil mengukir prestasi.
Salah satunya Muhammad Abdillah, siswa kelas 10 SMA Negeri 12 Banjarmasin, yang mendapatkan apresiasi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Penghargaan lainnya diberikan kepada Khairiadi Asa, peraih Juara II Nasional Musicpreneur Award 2025 yang juga dikenal sebagai pencipta lagu Banjar.
Ketua Umum DPP FKPWK H. Rachmad Fadillah, S.H., mengatakan Milad ke-2 menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat kontribusi organisasi kepada masyarakat.
“Milad FKPWK berjalan sesuai harapan meski dilaksanakan secara sederhana,” ujarnya.
Rachmad berharap sinergi dengan media, organisasi kemasyarakatan dan berbagai elemen masyarakat terus diperkuat.
“Ke depan, kami berharap sinergi dan solidaritas semakin kuat. FKPWK akan terus bergerak di bidang sosial, hukum dan budaya,” katanya.
Ketua Pembina DPP FKPWK H. Junaidi turut meminta pemerintah memperhatikan kondisi masyarakat di tengah kabut asap.
FKPWK bahkan berencana turun langsung ke lapangan untuk membagikan masker kepada warga.
“Kami dari FKPWK juga akan turun ke jalan untuk membagikan masker kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Junaidi, kepedulian terhadap masyarakat harus diwujudkan melalui langkah nyata.
Milad ke-2 FKPWK akhirnya tidak hanya menjadi perayaan perjalanan organisasi.
Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang menyuarakan persoalan kabut asap, dampaknya terhadap masyarakat serta kebutuhan pendampingan bagi korban karhutla.
Dengan semangat “Tumbuh Mandiri, Bangkit Bersinergi”, FKPWK menyatakan siap terus bergerak di bidang sosial, hukum dan budaya serta mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang terdampak persoalan lingkungan dan bencana.












