Permainan Tradisional hingga Musik Dayak, Warukin Rayakan Budaya Leluhur Selama Tiga Hari

TABALONG, PijarKalimantan.com — Denting musik, gerak tari, tradisi leluhur hingga permainan khas anak-anak tumpah dalam satu panggung di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong.

Festival Budaya Adat Dayak Maanyan Warukin bertema “ARAI HEWU” resmi dibuka, Sabtu (22/8/2026). Bukan sekadar perayaan tahunan, festival ini menjadi momentum masyarakat Dayak Maanyan menunjukkan bahwa budaya leluhur masih hidup, berkembang dan layak diwariskan kepada generasi muda.

Sekitar 450 orang memadati kawasan Balai Adat Dayak Maanyan. Bupati Tabalong Ir. H. Muhammad Noor Rifani, S.H., S.T., M.T., Kapolres Tabalong AKBP Wahyu Ismoyo J., S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla, Dandim 1008/Tabalong Letkol Inf. Alexander Allan Permadi, S.E., jajaran kepala SKPD, Forkopimca Tanta, pimpinan perusahaan, tokoh adat, tokoh masyarakat dan warga turut hadir dalam pembukaan.

Nuansa adat langsung terasa sejak awal. Para tamu Forkopimda disambut secara adat oleh Ketua Adat Dayak Maanyan sebelum seremoni pembukaan dimulai.

Pemotongan pita oleh Bupati Tabalong menjadi tanda festival resmi dibuka. Setelah itu, panggung budaya diisi tari-tarian Dayak Maanyan, lagu Indonesia Raya, lagu Tabalong Smart, doa serta penampilan Tari Lansia Ceria. Namun, daya tarik festival ini tidak berhenti pada panggung pertunjukan.

Selama tiga hari, Warukin menjadi ruang besar bagi masyarakat untuk mengenalkan kembali beragam tradisi yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari Festival Tarian Dayak, permainan tradisional, kuliner tradisional, stan khas Dayak, Pawai Culuk hingga Festival Musik Dayak, semuanya dikemas dalam satu rangkaian kegiatan.

Bupati Tabalong menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai festival adat memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Dengan adanya festival adat Dayak Maanyan ini, marilah kita bersama-sama menjaga budaya adat Dayak agar terus dipertahankan dan dilestarikan,” ujar Bupati Tabalong.

Baca Juga  IGTKI-PGRI, HIMPAUDI dan IGRA Kotabaru Gelar Gebyar Hari Ibu Tahun 2025

Hari pertama festival, Jumat (21/8/2026), diisi dengan Irarami Manyuluh, pertunjukan Sanggar Pantingik Nawuraha Nampak, Basurah atau bercerita bersama Abed Nego, serta penampilan Sanggar Tari Sendaring Merdeka dan Sanggar Tari Rairatan.

Memasuki Sabtu, kemeriahan semakin meningkat. Sejumlah sanggar tampil, di antaranya Sanggar SMAN 1 Tanta, Rairatan Junior dan Meratus Lestari.

Anak-anak juga mendapat ruang khusus melalui perlombaan permainan tradisional. Sanggar Wadian Tambai, Burung Ruai dan Komandan kemudian ikut menghidupkan panggung dengan tari-tarian tradisional.

Malam harinya, suasana festival semakin meriah dengan penampilan Uyau Moris ft. Poyang Jacko. Sementara Minggu (23/8/2026) menjadi hari penutup yang tak kalah menarik.

Musik Dayak Maanyan, Sindrah Kumangan Isasade atau makan bersama melalui tradisi “Luen Mu’au”, permainan tradisional dewasa, penilaian stan UMKM hingga pembagian hadiah menjadi bagian dari agenda.

Penutupan festival dilanjutkan penampilan Sanggar Tari STKIP PGRI dan Sanggar Tari Suluh Banua serta hiburan Bellacoustic Indonesia.

Besarnya antusiasme masyarakat membuat aspek keamanan menjadi perhatian selama kegiatan berlangsung.

Polres Tabalong bersama Polsek Tanta, Koramil Murung Pudak-Tanta dan panitia pelaksana melakukan pengamanan di sejumlah titik selama rangkaian festival.

Kapolres Tabalong AKBP Wahyu Ismoyo Jayawardana melalui Kasi Humas Polres Tabalong Iptu Heri Siswoyo mengatakan, kepolisian mendukung penuh kegiatan tersebut.

“Pengamanan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib dan kondusif sehingga masyarakat dapat mengikuti serta menikmati kegiatan budaya ini dengan nyaman,” jelasnya.

Menurutnya, festival budaya juga memiliki dampak positif karena mampu mempererat hubungan masyarakat sekaligus menjadi sarana mempertahankan warisan budaya daerah.

“Kami mengajak seluruh masyarakat dan peserta festival untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Mari kita lestarikan budaya daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa,” pungkasnya.

Baca Juga  Truk Bermuatan Besi Bangunan Terperosok, Sistem Contraflow Diterapkan di Tanjakan Durian Banjarbaru

Festival ARAI HEWU akhirnya bukan hanya menjadi agenda seremonial. Dari Balai Adat Dayak Maanyan Warukin, tradisi leluhur kembali dipertontonkan, diceritakan dan diwariskan.

Sebab budaya yang terus dirayakan adalah budaya yang memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *