Produksi Padi Tanah Bumbu Tembus 58.749 Ton, Tahun Ini Ditargetkan Capai 69.806 Ton

BATULICIN – Petani padi di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, mampu memproduksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 58.749 ton per tahun dari luas lahan sawah produktif mencapai 10.943 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Tanah Bumbu, Robby Chandra, mengatakan para petani menggunakan sejumlah varietas padi unggul, seperti Mekongga, Inpari 32, Inpari 49, Nutri Zinc, dan Siam Madu. Seluruh varietas tersebut memiliki masa tanam hingga panen sekitar 120 hari.

“Varietas bibit padi yang ditanam merupakan varietas unggul dengan masa tanam hingga panen sekitar 120 hari,” ujar Robby di Batulicin, Selasa.

Ia menjelaskan, petani di Tanah Bumbu menerapkan dua metode budidaya, yakni sistem tegel atau pola jarak tanam berbentuk persegi serta sistem tanam benih langsung (tabela).

Menurutnya, sistem tegel mampu mengoptimalkan proses fotosintesis dan pertumbuhan anakan tanaman karena pencahayaan lebih merata. Sementara sistem tabela dinilai lebih efisien karena dapat menekan biaya produksi sekaligus menghemat kebutuhan tenaga kerja hingga 30–40 persen.

Berkat penerapan metode tersebut, produksi padi Tanah Bumbu mencapai 58.749 ton per tahun. Pada tahun 2026, DKPP menargetkan produksi meningkat menjadi 69.806 ton.

“Pada musim tanam tahun ini, produksi yang telah terealisasi mencapai 32.137 ton, dengan rata-rata produktivitas sekitar 4,25 ton gabah per hektare,” jelas Robby.

Ia menambahkan, luas sawah produktif di Kabupaten Tanah Bumbu tersebar di 12 kecamatan, yakni Angsana 325 hektare, Batulicin 1.074 hektare, Karang Bintang 210 hektare, Kuranji 328 hektare, Kusan Hilir 1.055 hektare, Kusan Hulu 2.169 hektare, Kusan Tengah 4.208 hektare, Mantewe 40 hektare, Satui 716 hektare, Simpang Empat 150 hektare, Sungai Loban 90 hektare, serta Teluk Kepayang 578 hektare.

Baca Juga  Aksi Inovasi Tanbu 2026, Tenun Pagatan Tampil Elegan di Fashion Show Dekranasda Tanah Bumbu

Meski produksi terus meningkat, Robby mengakui sektor pertanian di Tanah Bumbu masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya keterbatasan infrastruktur pendukung pertanian, tingginya alih fungsi lahan, minimnya regenerasi petani muda, hingga kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Menurutnya, berbagai kendala tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar produktivitas pertanian di Kabupaten Tanah Bumbu dapat terus meningkat dan target produksi yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *